Jumat, 17 April 2009
TEKNIK KOMUNIKASI DATA TUNGGAL
Konsep umum penyaluran data digital melalui internet, dapat kita manfaatkan secara maksimal jika kita mengerti bagaimana caranya. Ada banyak sekali perkembangan dari konsep penyaluran data melalui internet tersebut, khususnya dalam bidang pendidikan. Contohnya antara lain sebagai berikut:
1. E-Education
e-education atau e-learning yang digambarkan sebagai virtual university merupakan sarana yang sangat tepat bagi kita untuk mendapatkan informasi dalam dunia pendidikan, terutama mengenai segala informasi di lingkungan pendidikan kita sendiri. Sebuah situs e-learning bisa memiliki beragam fasilitas. Dengan e-learning kita dapat melakukan distance learning (pembelajaran jarak jauh), berdiskusi dengan orang lain atau pakar dalam bidang tertentu, saling memberikan masukan, mendapatkan materi, mengirimkan tugas dengan mudah, mengetahui perkembangan pendidikan, dan masih banyak lagi manfaat lainnya.
2. E-mail
e-mail atau electronic mail adalah fasilitas internet yang memungkinkan seseorang mengirim dan menerima surat yang ditransmisikan secara elektronik. ‘surat’ yang kita kirimkan atau kita terima tidak terbatas hanya tulisan saja, tapi juga gambar, suara, video, atau aplikasi apapun, tentunya dalam bentuk digital. Berbagai materi pendidikan atau tugas dapat kita kirimkan dengan mudah kepada orang lain yang membutuhkannya.
3. Mailing List
aplikasi mailing list merupakan perkembangan dari e-mail. Dengan mailing list kita dapat membentuk kelompok pendidikan dan mendapatkan berita atau segala informasi pendidikan yang kita butuhkan.
4. News Group
News group merupakan aplikasi internet yang berupa electronic bulletin board, yaitu grup atau forum diskusi. Dengan news group ini kita dapat mendiskusikan masalah terbaru atatu materi pendidikan tertentu bersama-sama kapan saja.
5. File Transfer Protocol (FTP)
aplikasi ini memungkinkan pengguna internet melakukan download segala macam file dari internet. Baik itu sumber karya tulis, gambar-gambar untuk presentasi, tutorial pemrograman, dan lain sebagainya.
6. Gopher
Aplikasi gopher dikembangkan di university of Minnesota. Aplikasi ini berupa menu-menu yang memudahkan kita untuk melakukan pencarian bahan atau informasi yang kita butuhkan dalam bentuk teks.
7. Telnet
Fasilitas telnet memungkinkan kita untuk menghubungkan dan memakai komputer dari jarak jauh.
8. Talk, Chat dan Iphone
Layaknya teleconference, kita dapat melakukan diskusi dan seolah saling bertatapan secara langsung. Dalam dunia pendidikan, dengan fasilitas ini kita dapat mengadakan diskusi antar pelajar atau mahasiswa maupun dengan guru atau dosen tanpa terbatas tempat atau ruangan, dan tentunya banyak sekali hal yang dapat kita peroleh.
9. WWW (World Wide Web)
WWW atau W3 dikembangkan di CERN (Laboratorium Fisika partikel), Swiss pada tahun 1990. Fasilitas inilah yang saat ini menjadi sarana utama untuk mencari dan mendapatkan informasi dalam bentuk apapun. Hal khusus yang membedakan W3 dengan fasilitas yang lain yaitu kemampuannya melakukan link dengan informasi atau dokumen (home page) atau alamat internet lainnya lewat aplikasi ini. Dalam dunia pendidikan tentu saja sangat membantu karena pencarian informasi bisa dilakukan seluas mungkin. Ditambah dengan munculnya search engine seperti Yahoo, Google, askjeeves, teoma dan masih banyak lagi, menambah kemudahan kita dalam mencari artikel, bahan penelitian, dan lain sebagainya. Contoh lain yaitu situs-situs digital library yang membuat ribuan bahkan jutaan e-book. Salah satunya adalah http://www.greendigitalpress.com. Usaha ini dirintis oleh Arief Budi Witarto dan Romi Satria Wahono, keduanya peneliti di LIPI. Dengan digital lybrary ini kita dapat mencari literatur-literatur, jurnal ilmiah, laporan penelitian, prosiding seminar, atau bahkan buku-buku pengetahuan terbaru. Kitapun dapat mencarinya secara spesifik dengan cepat dan mudah.
Komunitas akademik dewasa ini telah terbiasa melakukan komunikasi lewat internet. berbagai kegiatan diatas dapat dilakukan hanya dengan sebuah Personal Computer (PC) yang terkoneksikan ke internet. Secara langsung, internet telah memberikan kontribusi signifikan terhadap berkembangnya ilmu pengetahuan dan pendidikan. Bukti yang lain adalah penelitian menarik yang dilakukan oleh Steve Lawrence, yang dimuat di jurnal penelitian terkemuka Nature. Beliau memberikan kesimpulan bahwa frekuensi rujukan terhadap artikel yang dimuat online (ditampilkan di internet), ternyata lebih banyak daripada artikel yang dimuat secara offline (tidak ditampilkan di internet). Lawrence mengamati sekitar 120.000 artikel ilmiah di bidang komputer, yang dipublikasikan dari tahun 1989 sampai 2000. Data menunjukkan bahwa artikel yang ditampilkan secara online rata-rata 7,03 kali dijadikan rujukan oleh penelitian lain, sedangkan artikel offline hanya sekitar 2,74. Fakta ini membuat Lawrence berkesimpulan, bahwa peningkatan kemampuan akses terhadap suatu paper meningkatkan kesempatan bagi peneliti lain untuk menemukan informasi yang diperlukan. Hal ini akan berdampak nyata pada berkembangnya suatu disiplin ilmu.
Dari contoh-contoh di atas dapat dirangkumkan bahwa usaha meng-online-kan informasi memiliki beberapa manfaat penting, antara lain:
1. memberikan kemudahan untuk mendapatkan informasi dengan lebih cepat
2. Artikel ilmiah yang dimuat secara online, memiliki potensi akses yang lebih besar dan lebih sering dipakai sebagai rujukan
3. Semakin luasnya kesempatan akses pada suatu informasi, secara tidak langsung dapat memberikan feedback positif bagi pemilik awal informasi tersebut
4. Data dan informasi yang dimuat secara online dapat membantu akselerasi perkembangan suatu cabang ilmu pengetahuan baru.
B. TRANSMISI ASYNCHRONOUS DAN SYNCHRONOUS
Data ditransfer melalui path komunikasi tunggal pada transmisi data secara serial
dimana tiap elemen pensinyalan dapat berupa :
· kurang dari 1 bit : misalnya dengan pengkodean Manchester
· 1 bit : NRZ-L dan FSK adalah contoh-contoh analog dan digital
· lebih dari 1 bit : QPSK sebagai contohnya.
Dalam bahasan ini, kita menganggap satu bit per elemen pensinyalan kecuali jika
keadaan sebaliknya.
Synchronisasi adalah salah satu tugas utama dari komunikasi data. Suatu transmitter
mengirim message 1 bit pada suatu waktu melalui suatu medium ke receiver.
Receiver harus mengenal awal dan akhir dari blok-blok bit dan juga harus mengetahui
durasi dari tiap bit sehingga dapat men-sampel line tersebut dengan timing yang tepat
untuk membaca tiap bit. Misalkan pengirim (sender) mentransmisi sejumlah bit-bit
data. Pengirim mempunyai suatu clock yang mempengaruhi timing dari transmisi bitbit.
Sebagai contoh, jika data ditransmisi dengan 10000 bits per second (bps),
kemudian 1 bit akan ditransmisi setiap 1/10000 = 0,1 millisecond (ms), sebagai yang
diukur oleh clock pengirim. Maka, receiver akan menentukan waktu yang cocok
untuk sampel-sampelnya pada interval dari 1 bit time. Pada contoh ini, pen-samplingan
akan terjadi sekali setiap 0,1 ms. Jika waktu pen-sampling-an berdasarkan pada
clocknya sendiri, maka akan timbul masalah jika clock-clock transmitter dan reciver
tidak disamakan dengan tepat. Jika ada perbedaan 1 persen (clock receiver 1 persen
lebih cepat atau lebih lambat daripada clock transmitter), maka pen-sampling-an
pertama 0,001 ms meleset dari tengah bit (tengah bit adalah 0,05 ms dari awal dan
akhir bit). Setelah sampel-sampel mencapai 50 atau lebih, receiver akan error karena
pen-sampling-annya dalam bit time yang salah (50 x 0,001 = 0,05 ms). Untuk
perbedaan timing yang kecil, error akan terjadi kemudian, tetapi kemudian receiver
akan keluar dari step transmitter jika transmitter mengirim aliran bit yang panjang dan
jika tidak ada langkah-langkah yang men-synchron-kan transmitter dan receiver.
TRANSMISI ASYNCHRONOUS
Strategi dari metode ini yaitu mencegah problem timing dengan tidak mengirim aliran
bit panjang yang tidak putus -putusnya. Melainkan data ditransmisi per karakter pada
suatu waktu, dimana tiap karakter adalah 5 sampai 8 bit panjangnya. Timing atau
synchronisasi harus dipertahankan antara tiap karakter; receiver mempunyai
kesempatan untuk men-synchron-kan awal dari tiap karakter baru.
Kamis, 02 April 2009
MACAM-MACAM KODE
1. Kode Baudot
Berawal dari kode morse. Ada kode 4-an, 5-an, 6-an, dan 8-an yang digunakan untuk pengiriman telegraph yang disimpan di pita berupa lubang tutup. Untuk lubang sebanyak 6x berturut-turut disebut sebagai kode 6-an. Begitu juga yang lainya. Kode ini juga digunakan sebagai satuan kecepatan pengiriman data. Kode baudot ini ada sejak 1838 ditemukan oleh Frenchman Emile Baudot sebagai bapak komunikasi data. Terdiri dari 5 bit perkarakter (sehingga dapat dibuat 32 karakter) dan untuk membedakan huruf dengan gambar dipakai kode khusus, yakni 111111 untuk letter dan 11011 untuKode ASCII
2. Standard Code (Americank figure. for Information Interchange)
Didefinisikan sebagai kode 7 bit (sehingga dapat dibuat 128 karakter). Masing-masing yaitu 0-32 untuk karakter kontrol (unprintable) dan 32-127 untuk karakter yang tercetak (printable). Dalam transmisi synkron tiga karakter terdiri dari 10 atau 11 bit : 1 bit awal, 7 bit data, 1 atau 2 bit akhir dan 1 bit paritas.
3. Kode 4 atau Kode 8
Kombinasi yang diijinkan adalah 4 bit “1” dan 4 bit “0” sehingga dapat dibuat kombinasi 70 karakter.
4. Kode BCD (binary code desimal)
Terdiri dari 6 bit perkarakter dengan kombinasi 64 karakter. Untuk asynkron terdiri dari 9 bit: 1 bit awal, 6 bit data, 1 bit paritas dan 1 bit akhir.
5. Kode EBCID
Menggunakan 8 bit perkarakter dengan 256 kombinasi karakter.
Asynkron: 1 bit awal, 8 bit data, 1 bit paritas dan 1 bit akhir.
PENGGUNAAN SISTEM PENGKODEAN
Sejak ditemukannya radio maka penggunaannya semakin lama semakin banyak dan berbagai macam. Hal ini menimbulkan permasalahan yaitu padatnya jalur komunikasi yang menggunakan radio. Bisa dibayangkan jika pada suatu kota terdapat puluhan stasiun pemancar radio FM dengan bandwidth radio FM yang disediakan antara 88 MHz – 108 MHz. Tentunya ketika knob tunning diputar sedikit maka sudah ditemukan stasiun radio FM yang lain. Ini belum untuk yang lain seperti untuk para penggemar radio kontrol yang juga menggunakan jalur radio. Bahkan untuk pengontrollan pintu garasi juga menggunakan jalur radio. Jika kondisi ini tidak ada peraturannya maka akan terjadi tumpang tindih pada jalur radio tersebut.
Alternatifnya yaitu dengan menggunakan cahaya sebagai media komunikasinya. Cahaya dimodulasi oleh sebuah sinyal carrier seperti halnya sinyal radio dapat membawa pesan data maupun perintah yang banyaknya hampir tidak terbatas dan sampai saat ini belum ada aturan yang membatasi penggunaan cahaya ini sebagai media komunikasi.
Gambar 1
Spektrum Cahaya dan Respon Mata Manusia
Pada dasarnya penggunaan modulasi cahaya penggunaannya tidak ada batasnya namun modulasinya harus menggunakan sinyal carrier yang frekuensinya harus sangat tinggi yaitu dalam orde ribuan megahertz. Biasanya modulasi dengan frekuensi carrier yang tinggi ini digunakan untuk madulasi sinar laser atau pada transmisi data yang menggunakan media fiberoptic sebagai media perantaranya. Untuk transmisi data yang menggunakan media udara sebagai media perantara biasanya menggunakan frekuensi carrier yang jau lebih rendah yaitu sekitar 30KHz sampai dengan 40KHz. Infra merah yang dipancarkan melalui udara ini paling efektif jika menggunakan sinyal carrier yang mempunyai frekuensi di atas.
Cara Kerja Remote Infra Merah
Semua remote kontrol menggunakan transmisi sinyal infra merah yang dimodulasi dengan sinyal carrier dengan frekuensi tertentu yaitu pada frekuensi 30KHz sampai 40KHz. Sinyal yang dipancarkan oleh transmitter diteria oleh receiver infra merah dan kemudian didecodekan sebagai sebuah paket data biner.
Panjang sinyal data biner ini bervariasi antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain sehingga suatu remote kontrol hanya dapat digunakan untuk sebuah produk dari perusahaan yang sama dan pada tipe yang sama. Hal ini dapat dicontohkan pada remote TV SONY hanya bisa digunakan untuk remote VCD SONY dan sebaliknya tetapi tidak dapat digunakan untuk TV merek yang lain.
Pada transmisi infra merah terdapat dua terminologi yang sangat penting yaitu : ‘space’ yang menyatakan tidak ada sinyal carrier dan ‘pulse’ yang menyatakan ada sinyal carrier.
Gambar 2
Pulse-Space Terminologi
Pengkodean pada remote infra merah pada dasarnya ada tiga macam dan semuanya berdasarkan pada panjang jarak antar pulsa atau pergeseran urutan pulsa.
¨ Pulse-Width Coded Signal. Pada pengkodean ini panjang pulsa merupakan kode informasinya. Jika panjang pulsa ‘pendek’ (kira-kira 550us) maka dikatakan sebagai logika ‘L’ tetapi jika panjang pulsa ‘panjang’ (kira-kira 2200us) maka menyatakan logika ‘H’.
Gambar 3
Pulse Width Coded Signals
¨ Space-Coded Signals. Pada pengkodean ini didasarkan pada panjang/pendek space. Jika panjang pulsa sekitar 550us atau kurang maka dinyatakan sebagai logika ‘L’ sedangkan jika panjang space lebih dari 1650us maka dinyatakan sebagai logika ‘H’.
Gambar 4
Space Width Coded Signal
¨ Shift Coded Signal. Pengkodean ini ditentukan pada urutan pulsa dan space. Pada saat ‘space’ pendek, kurang dari 550us dan ‘pulse’ panjang, lebih dari 1100us maka dinyatakan sebagai logika ‘H’. Tetapi sebaliknya jika ‘space’ panjang dan ‘pulse’ pendek maka dinyatakan sebagai logika ‘L’.
Gambar 5
Shift Coded Signal
Pengkodean ini merupakan hal yang sangat penting karena tanpa mengetahui sistem pengkodean pada sisi transmitter infra merah maka disisi receiver tidak bisa mendekodekan data/perintah apa yang dikirmkan. Selain itu didalam pengkodean ini perlu disisipkan suatu data yang dinamakan sebagai ‘device address’ sebelum data atau perintah. Device addres ini menyatakan nomor alamat peralatan jika terdapat lebih dari satu alat yang dapat dikendalikan oleh sebuah remote kontrol pada suatu area tertentu.
Transmitter Infra Merah
Infra merah dapat digunakan baik untuk memancarkan data maupun sinyal sura. Keduanya membutuhkan sinyal carrier untuk membawa sinyal data maupun sinyal suara tersebut hingga sampai pada receiver.
Gambar 6
Konverter Sinyal Suara Menjadi Frekuensi
Untuk transmisi sinyal suara biasanya digunakan rangkaian voltage to frequency converter yang berfungsi untuk merubah tegangan sinyal suara menjadi frekuensi. Dan jika sinyal ini dimodulasikan sengan sinyal carrier maka akan menghasilkan suatu modulasi FM. Modulasi jenis ini lebih disukai karena paling kebal terhadap perubahan amplitudo sinyal apabila sinyal mengalami gangguan di udara.
Untuk transmisi data biasanya sinyal ditransmisikan dalam bentuk pulsa-pulsa seperti telah dijelaskan di atas. Ketika sebuah tombol ditekan pada remote kontrol unti maka IR akan mentransmitkan sebuah sinyal yang akan dideteksi sebagai urutan data biner.
Penerima Infra Merah
Untuk aplikasi jarak jauh maka perlu adanya pengumpulan sinar termodulasi yang lemah. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan photodioda yang sudah mempunyai semacam lensa cembung yang akan mengumpulkan sinar termodulasi tersebut. Biasanya menggunakan lensa tambahan yang dinamakan dengan lensa FRESNEL yang terbuat dari bahan plastik dan kemudian diumpankan ke photodioda dengan jarak tertentu pada fokus lensa FRESNEL ini.
Untuk aplikasi remote ontrol biasanya cukup menggunakan lensa yang dimiliki oleh photodioda/phototransistor dengan penguatan tertentu. Untuk penggunaan yang harus dapat menerima pancaran sinyal infra merah yang sudut datangnya besar maka harus menggunakan dua atau lebih photodioda. Photodioda yang baik adalah photodioda yang mampu mengumpulkan sinar termodulasi tepat pada wafer silikonnya dan hal inilah yang mempengaruhi kualitas photodioda/phototransistor yang dibeli di pasaran.
Pada saat photodioda mendeteksi adanya sinar infra merah maka akan terdapat arus bocor sebesar 0.5 uA dan ini juga tergantung pada kekuatan sinar infra merah yang datang dan sudut datangnya.
Kekuatan sinar dan sudut datang merupakan faktor penting dalam keberhasilan transmisi data melalui infra merah selain filter dan penguatan pada bagian receivernya.
Sistem Pengkodean Data
By Adi & Ringga
PENGKODEAN DATA
Karakter-karakter data yang akan dikirim dari satu titik ke titik lain, tidak dapat
dikirimkan secara langsung. Sebelum dikirim, karakter-karakter data tersebut harus dikodekan
terlebih dahulu dengan kode-kode yang dikenal oleh setiap terminal.
Tujuan dari sebuah pengkodean adalah menjadikan tiap karakter dalam sebuah informasi
digital yaitu ke dalam bentuk biner untuk dapat ditransmisikan.
Kode-kode yang sering digunakan pada beberapa sistem komunikasi data dan dikenal
oleh berbagai terminal diantaranya adalah Kode Tujuh Bit (ASCII) dan kode ABCDIC.
Kode Tujuh Bit (ASCII)
Kode tujuh bit yang dikenal dengan nama International Alphabet No 5 dari International
Standard Organisation (ISO). Di Indonesia lebih di kenal dengan nama kode ASCII (American
Standard Code for Information Exchange). Kode ASCII seperi yang terlihat pada tabel 1 di
bawah ini menyediakan 128 kombinasi. Dari 128 kombinasi tersebut, 22 kode diantaranya
digunakan untuk fungsi-fungsi kendali seperti kendali piranti, kendali format, pemisah
informasi dan kendali pengiriman.
Kode ini merupakan kode alphanumeric yang paling populer dalam teknik komunikasi
data. Kode ini menggunakan tujuh bit untuk operasinya sedangkan bit ke delapan dapat
ditambahkan untuk posisi pengecekan bit secara even atau odd parity.
Kendali Format
Kendali format (format control) merupakan karakter-karakter yang digunakan untuk
mengendalikan format pengaturan posisi print head atau kursor sesuai dengan keinginan. Ada
enam karakter yang digunakan untuk melakukan kendali format yaitu :
· BS (Back Space). Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau menampilkan
kursor satu posisi ke belakang.
· HOT (Horisontal Tabulation). Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau
memindahkan kursor ke depan menuju tab berikutnya atau menghentikan posisi.
· LF (Line Feed). Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau menampilkan kursor
menuju posisi karakter yang sesuai pada baris berikutnya.
· VT (Vertical Tabulation). Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau
menampilkan kursor menuju rangkaian baris berikutnya.
· FF (Form Feed). Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau menampilkan
kursor menuju posisi awal halaman, form atau layar berikutnya.
· CR (Carriage Return). Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau menampilkan
kursor menuju pada posisi awal di baris yang sama.
Kendali Pengiriman
Kendali pengiriman ini digunakan untuk mengemas pesan ke dalam format yang dikenal
dan untuk mengontrol aliran data dalam jaringan. Kendali pengiriman ini digunakan dalam
protokol-protokol yang berorientasi karakter. Protokol yang berorientasi karakter,
menggunakan karakter-karakter khusus untuk membedakan segmen-segmen bingkai informasi
yang berbeda-beda pada saat pengiriman. Pada protokol ini, semua pesan dikirim dalam
sederetannya byte.
Beberapa karakter yang digunakan untuk kendali pengiriman antara lain adalah :
- SOH (Start of Heading)
Menunjukkan bagian awal heading yang berisikan alamat atau arah informasi
- STX (Start of Text)
Menunjukkan bagian awal teks dan bagian akhir heading
- ETX (End of Text)
Menunjukkan bagian akhir teks yang dimulai dengan karakter STX
- EOT (End of Transmision)
Menunjukkan selesainya transmisi dan kemungkinan mencakup atau teks lebih berikut dengan headingnya
- ENQ (Enquiry)
Menunjukkan permintaan tanggapan dari station yang berjauhan
- ACK (Acknowledgement)
Menunjukkan respon persetujuan kepada pengirim. Karakter ini dikirimkan oleh
penerima untuk menunjukkan respon positif pada pengirim
- NAK (Negative Acknowledgement)
Dikirimkan oleh penerima untuk menunjukkan respon negatif kepada pengirim
- SYN (Synchronous /IDLE)
Digunakan oleh sistem transmisi sinkron untuk mempercepat proses sinkronisasi
- ETB (End of Transmission Block)
Menunjukkan bagian akhir block data untuk keperluan komunikasi
Kendali Piranti
Kendali piranti (Device Control) merupakan karakter-karakter yang digunakan untuk
mengendalikan piranti seperti mengendalikan operasi fisik dari setiap terminal. Contoh
implementasinya adalah seperti menghidupkan atau mematikan tombol penggerak.
Karakter-karakter yang dipakai untuk mengendalikan piranti-piranti tersebut antara lain
adalah DC1, DC2, DC3 dan DC4. DC1 dan DC3 biasanya dipakai untuk mengendalikan aliran
data dari terminal tak sinkron. DC1 untuk menghidupkan aliran dan DC3 untuk mematikan
aliran data.
Pemisah Informasi
Pemisah informasi (Information Separator) digunakan untuk memisahkan informasi
yang dikirim sehingga memudahkan perekaman dan penyimpanan data.
Dari daftar kode ASCII pada tabel 1, terdapat empat karakter yang dikategorikan sebagai
pemisah informasi. Keempat karakter tersebut adalah :
· US (Unit Separator)
· RS (Record Separator)
· GS (Group Separator)
· FS (File Separator)
Sumber: http://rijalfadilah.files.wordpress.com/2008/04/pertemuan_5_kd.pdf
Kode 8 bit (Kode EBCDIC)
EBCDIC singkatan dari Extended Binary Coded Decimal Interchange Code terdiri dari
kombinasi 8 bit yang memungkinkan untuk mewakili karakter sebanyak 256 kombinasi
karakter.
| HEX | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | A | B | C | D | E | F |
| 0 | NUL | DLE | DS | | SP | & | | | | | | | | | | 0 |
| 1 | SOH | DC1 | DOS | | | | | | a | j | | | A | J | | 1 |
| 2 | STX | DC2 | FS | SYN | | | | | b | k | s | | B | K | S | 2 |
| 3 | ETX | DC3 | | | | | | | c | l | t | | C | L | T | 3 |
| 4 | PF | RES | BYP | PN | | | | | d | m | u | | D | M | U | 4 |
| 5 | HT | NL | LF | RS | | | | | e | n | v | | E | N | V | 5 |
| 6 | LC | BS | ETB | UC | | | | | f | o | w | | F | O | W | 6 |
| 7 | DEL | IL | ESC | EOT | | | | | g | p | x | | G | P | X | 7 |
| 8 | CAN | | | | | | | | h | q | y | | H | Q | Y | 8 |
| 9 | RLF | EM | | | | | | | i | r | z | | I | R | Z | 9 |
| A | SMM | CC | SM | | | ! | | : | | | | | | | | |
| B | VT | | | | | $ | ’ | # | | | | | | | | |
| C | FF | IFS | | DC4 | < | “ | % | @ | | | | | | | | |
| D | CR | IGS | ENQ | NAK | ( | ) | | . | | | | | | | | |
| E | SO | IRS | ACK | | à | ; | > | = | | | | | | | | |
| F | SI | IUS | BEL | SUB | | | | ? | | | | | | | | | |
Keterangan :
PF = Punch Off
LC = Lowercase
UC = Uppercase
RLF = Reverse Line Feed
SMM = Start of Manual Message
RES = Restore
NL = New Line
IL = Idle
SM = Set Mode
RS = Reader Stop
CC = Cursor Control
IFS = Interchange File Separator
IGC = Interchange Group Separator
IRS = Interchange Record Separator
IUS = Interchange Unit Separator
DS = Digit Select
SOS = Start Of Significance
BYP = Bypass
PM = Punch On
Pada kode 8 bit (EBCDIC) ini, high order bits atau 4-bit pertama disebut dengan zone
bits atau 4 bit kedua disebut dengan numeric bits. Kode-kode EBCDIC ini banyak digunakan
oleh komputer-komputer IBM.
Kode 5 bit (Kode BOUDOT)
Kode BOUDOT terdiri atas 5 bit yang dipergunakan pada terminal teletype dan tele
printer. Karena kode ini terdiri atas 5 bit, maka hanya terdiri atas 25 atau 32 kombinasi dengan
kode huruf dan gambar yang berbeda.
Jika kode ini dikirm menggunakan trasnmisi serial tak sinkron, maka untuk pulsa stop
bit-nya pada umumnya memiliki lebar 1,5 bit. Hal ini berbeda dengan kode ASCII yang
menggunakan 1 atau 2 bit untuk pulsa stop bit-nya.
| Kode | Karakter Letter | Karakter Figure |
| 11000 | A | - |
| 10011 | B | ? |
| 01110 | C | : |
| 10010 | D | $ |
| 10000 | E | 3 |
| 10110 | F | ! |
| 01011 | G | % |
| 00101 | H | # |
| 01100 | I | 8 |
| 11010 | J | ’ |
| 11110 | K | ( |
| 01001 | L | ) |
| 00111 | M | . |
| 00011 | N | , |
| 00011 | O | 9 |
| 01101 | P | 0 |
| 11101 | Q | 1 |
| 01010 | R | 4 |
| 10100 | S | BELL |
| 00001 | T | 5 |
| 11100 | U | 7 |
| 01111 | V | ; |
| 11001 | W | 2 |
| 10111 | X | / |
| 10101 | Y | 6 |
| 10001 | Z | ” |
| 11111 | LTRS | LTRS |
| 11011 | FIGS | FIGS |
| 00100 | SPC | SPC |
| 00010 | CR | CR |
| 01000 | LF | LF |
| 00000 | NULL | NULL |
Encoding dan Decoding
Encoding, merupakan proses pengkonversian suatu sumber data analog maupun digital
menjadi sinyal digital. Bentuk sinyal yang dihasilkan nantinya bergantung kepada teknik
encoding dan media transmisi yang digunakan.
Sinyal yang paling banyak dikenal adalah sinyal audio yang berbentuk gelombang bunyi
dan dapat didengar oleh manusia. Sinyal ini biasa disebut dengan speech. Sinyal yang
dihasilkan dari speech tersebut memiliki komponen frekuensi antara 20 Hz sampai 20 kHz.
Tetapi sebagian spektrum energinya terkonsentrasi pada frekuensi rendah.
Untuk menjadikan sinyal digital, maka sumber analog di encoding terlebih dahulu menjadi
sinyal digital. Data digital atau analog akan melewati suatu alat yang disebut dengan encoder
yang digunakan untuk melakukan encoding sehingga menghasilkan sinyal digital. Sinyal
digital tersebut digunakan dalam kegiatan transmisi data. Sedangkan untuk menuju kepada
penerima akan diubah kembali pada sinyal asli baik analog maupun digital. Untuk itu
digunakan alat yang disebut dengan nama decoder dan proses perubahan sinyal yang
dinamakan decoding.
Sumber: Rijal Fadilah S.Si – www.rijalfadilah.net
Image018.jpg)